Portal Bangsa
ad

32 Tahun Menjaga Situs Menhir Kamal Jember agar Tetap Lestari

berita terkini
Abdurrahim, juru pelihara Situs Menhir, Dusun Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember
ad

JEMBER, (portalbangsa.com) – Jalannya sudah tertatih ketika ia menyapa kami. Sambil menyodorkan buku tamu, menyilakan agar kami mengisinya. Rumahnya sederhana, dindingnya dari bilah bambu yang dijalin rapi. Di ruang tamu terdapat TV ukuran 24 inci yang menyala.

Suaranya berat. Jika ia berbicara perlahan, namun pasti. Ia bernama Abdurrahim. Dakunya ia lahir di tahun 1938, ia juga mengatakan, tahun kelahirannya yang berada di ijazah tertulis tahun 1942 tahun. Namun ia tetap yakin dengan tahun kelahiran 1938.

Pada tahun 1985 Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (KSPSP) (Kini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Trowulan Mojokerto, menugaskan Abdurrahim sebagai pengawas di Cagar Budaya Situs Menhir Duplang Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

“Saya ditugas melindungi benda cagar budaya ini mulai tahun 85 sampai sekarang,” kata Abdurrahim.

Akunya yang mengangkatnya menjadi pengawas cagar budaya ini ialah Arif dan Bambang Susilo. Petugas dari KSPSP.

Ia menceritakan, lahan situs Menhir Duplang ini merupakan peninggalan dari kakek buyutnya. Dari ia lahir sampai usia senjanya masih menempati tanah ini. Salah satu bukti tanah situs ini miliknya ialah permakaman yang berada di belakang rumahnya. Abdurrahim mengatakan jika bapaknya meninggal di umur 180 tahun. Namun satu permasalahan, orang tua dan kakek buyutnya tak mempunyai akta tanah.

Tanahnya dianggap sebagai tanah merah. Tanahnya diakui oleh pemerintah, namun Abdurrahim tetap bisa menempatinya. Tapi ia tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Baginya tempat untuk bernaung sudahlah cukup. Namun untuk lokasi dan luas situs Menhir, Ia merasa pemerintah harus benar-benar memperhatikannya. Karena di salah satu sudut lahan Situs sudah dijadikan tempat pemakaman oleh masyarakat sekitar.

“Saya minta tolong pada (Dinas) Parawisata. Lokasi situs ini supaya dikasih ukuran. Supaya permakaman masyarakat ini tidak menjalar.”

Pria berusia 79 tahun ini khawatir jika permakaman umum yang lokasinya tak terlalu jauh dari lokasi situs akan terus merambat mendekati lokasi situs.

Abdurrahim meminta kepada pemerintah Jember untuk benar-benar memperhatikan keberadaan situs Menhir ini. Menurutnya akan lebih baik jika lahan situs diperluas hingga mencapai pinggir permakaman, kemudian diberi batas pagar. Sedangkan lahan yang sudah dijadikan tanah permakaman oleh masyarakat, menurutnya tak perlu dipermasalahkan lagi.

“Dari sana sudah dikasih perbatasan, di sini untuk tempat benda sejarah,” pandangnya ke arah barat sambil menunjuk kamar mandi yang berada di depan situs, kemudian telunjuknya pelan mengarah ke selatan, tepat di tempat pemakaman hingga mengelilingi lokasi situs.

Lokasi situs sebenarnya sudah mempunyai pagar di sekelilingnya, namun hanya  sebatas mengelilingi benda-benda sejarah itu. Abdurrahim tak mempermasalahkan pagar kelilingnya dibongkar jika sudah diberi pagar keliling yang lebih luas.

“Supaya pagar ini dikasih di luar mushola,” katanya sambil menatap ke arah mushola. Mushola tepat berada di sebelah utara kamar mandi, sekitar dua meter di depan lokasi situs.

Satu hari ia menyayangkan adanya perusakan pintu kamar mandi. Ada bekas tikaman kepalan tangan di tengah pintu kamar mandi.

“Anak-anak yang main mabuk ke sini, nggak sembarangan masuk kan?”

“Pernah pak?” Tanya saya.

Woo bukan pernah. Itu pintu WC ditikam gini (tangan kanannya memeragakan dengan kepalan mengayun ke arah depan) rusak itu buktinya. Itu buktinya,” tegasnya.

Ia berharap ketika pemerintah Jember sudah memugar dan merenovasi lokasi situs Menhir Duplang ini, tak ada pengrusakan dan perbuatan yang tak bertanggungjawab lagi.

Reporter : Chairul Anwar
Editor : Yuni Musyarofah
ad
Berita Sebelumnya Tarian Tradisional Dan Tradisi Pedang Pora Sambut Kapolres Situbondo
Berita Selanjutnya Program Wira Usaha di SMK AL-Azhar Bangsalsari Jember

Komentar Anda