Portal Bangsa
ad

Kisah Memilukan dari Rest Area Jubung Jember

berita terkini
Tosan bersama sol sepatunya menunggu pelanggan datang memenuhi jari-jarinya untuk menjahit.
ad

JEMBER, (portalbangsa.com) - Terlihat seorang lelaki tua sedang duduk di suatu tempat di Restoran Area Jubung, Kabupaten Jember, Senin (23/01). Tatapannya terlihat kosong. Memakai baju putih dengan kombinasi peci santri yang sudah lusuh.

Garis keriput di wajah sangat jelas terlihat. Bentuk tubuh yang membungkuk seakan melambangkan kegigihannya dalam menjalani hidup.

Di depannya ada sebuah kotak biru ukuran 50 X 50 cm  bertuliskan 'Sol Sepatu' dengan sepasang sepatu-sepatu putih. Tas hitam terlihat terisi penuh. Entah apa isinya.

Tosan, begitulah nama panggilannya. Dia tinggal bersama sang istri tercinta di Desa Sumberwringin, Desa Sukowono, Kabupaten Jember.

Lalu lalang kendaraan besar yang lewat sudah menjadi teman akrab seharinya. Dia biasa mangkal di kawasan 'Rest Area'  jubung hampir setiap paginya. Hanya untuk menunggu orang lewat sekedar menjahitkan sandal atau sepatunya. Tak mahal, pria kelahiran 1951 ini hanya membandrol tarif Rp. 5000 per sepasang sepatu.

Hanya bermodalkan benang nilon dan jarum, melalui tangan terampilnya, ia mampu menyulap sandal sepatu yang mulai robek bisa kembali dipakai.

Bapak tua ini mengaku mengadu nasib di Kabupaten Jember hanya ingin mencari pengganjal perut dan membiayai sekolah anaknya. Tak tentu penghasilan yang ia dapat, kadang Rp.10.000 atau tidak sama sekali.

"Sudah dua hari ini jahitan sepi, tetapi mau bagaimana lagi? Saya kalau di desa tidak laku kerja buruh tani. Apalagi tenaga juga sudah tidak memungkinkan," ujar laki-laki kelahiran kota oseng Banyuwangi dengan pasrah.

Ia mengaku jarang makan. Setiap malam tidur di emperan Pasar Mangli. Pantas saja saat menjahit terlihat gemetar. Tosan mengaku dua minggu sekali menyambangi sang istri di rumah.

"Kalau pulang setiap hari sangunya tidak cukup, saya ke Sumberwringin habis Rp 35.000 untuk ongkos angkot dan ojek. Jadi saya putuskan bermalam, kalau pas nggak ada rejeki, cukup minum air pet (ledeng)," akunya memelas.

Di usianya yang tak lagi muda, dia hanya punya satu impian, ingin mendorong anak semata wayangnya agar bisa melanjutkan sekolah sampai ke jenjang lebih tinggi.

"Namanya Nabila usia tujuh tahun. Jadi biar tidak seperti bapaknya yang sementara ini hanya cukup untuk makan. Tapi ya kita harus syukuri," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kegaduhan polemik politik Kabupaten Jember tak berpengaruh sedikitpun bagi kehidupan nya.

Tosan adalah salah seorang dari ribuan warga miskin Jember yang masih luput dari perhatian pemerintah. Di mana sampai saat ini terus berusaha mengejar mimpinya.

Dari sosok Tosan, kita bisa belajar bagaimana selalu menghadirkan rasa syukur di tengah kekurangan yang diderita.

Reporter : Ifah Nur Fadiyah
Editor : Rudi Erlangga
ad
Berita Sebelumnya Jam Aktif Sekolah, Satpol PP Tangkap Tiga Pelajar di Rumah Kos
Berita Selanjutnya Program Wira Usaha di SMK AL-Azhar Bangsalsari Jember

Komentar Anda