Portal Bangsa
ad

Sang Veteran Jember, Riwayatmu Kini

berita terkini
Pak Burseh (95) saat menceritakan kisahnya kepada wartawan Portalbangsa.com
ad

JEMBER, (portalbangsa.com) - Pak Burseh (95) seorang veteran perang yang kini hari-harinya ia habiskan sebagai tukang parkir di salah satu bank konvensional di Ambulu Jember. Ia kini tinggal bersama anak cucunya di Desa Ampel Wuluhan Jember (14/01).

Pak Burseh kini berusia 95 tahun. Di usianya yang senja, ia masih saja bersemangat menceritakan kisah-kisah hidupnya di medan perang. Berbagi kisah dengan kami agar semangatnya tertularkan dan menghormati jasa dari para pembela tanah air. Tentunya harapan agar generasi muda pandai-pandai untuk merawat ingatan dari masa heroik Indonesia.

Di bawah Komando Letkol Moch. Sroedji, Pak Burseh berada dalam barisan Brigade III/Divisi I batalyon Sjaifudin Jember, mengamankan tanah air dari desakan dan penjajahan kolonialisme. Dimulai pada agresi militer I hingga agresi militer Belanda II, ia dan pasukan pejuang lainnya mempertaruhkan jiwa raga hanya demi kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Hari-hari tuanya kini ia habiskan dengan bekerja sebagai tukang parkir di salah satu bank konvensional yang ada di Kecamatan ambulu.  Pekerjaan sebagai  tukang parkir baginya kehendak yang ia paksakan sendiri. Mengingat pekerjaan yang saat ini sulit didapatkan. Namun dalam menjalani sebagai tukang parkir ini, ada kekecewaan dalam dirinya kepada pemerintah.

“Saya nggak ngundat-ngundat. Mati-matian berjuang untuk negara untuk nusa dan bangsa. Nggletek tekak ro merdeka berjuang mati ndak mati nggletek nggak dadi opo-opo.” Katanya.

Ia mengaku sudah dua puluh tahun lamanya menjalani profesi sebagai tukang parkir. Sebelumnya ia juga pernah bekerja sebagai keamanan. Baginya, pemerintah yang membiarkan seorang yang pernah berjasa dalam membela tanah air ini sangat disesalkan. Ia rasa pemerintah harusnya memberikan pekerjaan yang layak kepadanya.

“Pemerintah itu harus tanya. Ya apa Pak Burseh itu perjuangannya? Kadang kabeh omong. Opo Pak Burseh itu kei penggaean seng mesti, opo ndek pasar, opo jadi iki. Nggletek tukang parkir." (Ya apa Pak Burseh itu perjuangannya? Kadang semuanya bilang. Apa Pak Burseh itu diberi pekerjaan yang semestinya. Apa di pasar, apa jadi ini).
Saat Hari Raya Idul Fitri tiba, maka banyak yang bertandang ke rumah Pak Burseh. Untuk tetap sambung silaturahmi, mendengarkan kisahnya hingga bersimpati padanya karena pekerjaan yang ia jalani saat ini.

“Tapi pemimpin sekarang  nggak kasihan sama saya. Kemauannya itu bagaimana?”
Kegelisahan dan keriasauan di masa tuanya inilah yang telah menjadikan Pak Burseh marah. Bahwa harapan jasa-jasanya harusnya dikenang, dihormati oleh pemerintah, diberikan penghargaan yang layak dalam pekerjaan, nyatanya tak dihiraukan oleh pemerintah.

Masa-masa Heroik

Di dalam perjuangannya, Pak Burseh yang telah purnawirawan ini pernah mendapatkan luka tembak di bagian bokong. Ia dengan jelas menunjukkan bekas luka tembak itu kepada saya. Luka yang berada di bagian pangkal paha dan tembus ke bagian bokong itulah yang menjadi kenang-kenangan fisiknya karena telah membela negara.

“Saya juga ditembak dulu. Kena sini. (sembari tertawa dan menunjukkan lukanya). Saya ditembak nggak mati. Cuman tidak bisa lari saya.”

Pak Burseh masih mengingat bagaimana detik-detik akhir dari perjuangan dari pemimpinnya Letkol, Letkol Moch Srodji di medan perjuangan.

“Pak Sroedji tepak mbakar jagung karo Ibrahim. Ditembak.” (Pak Sroedji sedang membakar jagung bersama Ibrahim. Ditembak.) Kenangnya.

Ia mengaku pernah ditawan dua kali oleh Belanda. Namun dua kali juga ia mampu meloloskan diri dari sana. Salah satunya di daerah Balung. Hingga Belanda mengeluarkan pengumuman kepada masyarakat, bahwa barang siapa saja yang dapat menangkapnya akan diberikan hadiah.

“Siapa yang bisa memegang Burseh tak kasih hadiah beras satu kuintal, (dan) uang seratus lima puluh.” Ceritanya menirukan pengumuman dari Belanda.

Kini ia tinggal bersama anak cucunya di Desa Ampel Kecamatan Wuluhan Jember. Harapannya tak pernah muluk. Pemerintah yang berkuasa menghargai apa yang telah dilakukannya bagi negara. Memberikan penghargaan yang pantas bagi masa tuanya.[]


Oleh Chairul Anwar

Reporter : Chairul Anwar
Editor : Fita Nur Azizah
ad
Berita Sebelumnya Seorang Dukun di Sumenep Ditemukan Tewas dengan Leher Nyaris Putus
Berita Selanjutnya Program Wira Usaha di SMK AL-Azhar Bangsalsari Jember

Komentar Anda